[No Spoiler Review] Eye in the Sky; Welcome to the New Front Line

eye-in-the-sky-2016
Foto oleh Raindog Film

Jujur saja waktu Oktober tahun lalu menyusun daftar film yang harus ditonton di bioskop ditahun 2016, Eye in the Sky gak masuk daftar itu, bahkan tau ada film ini juga baru 3 minggu terakhir. Setelah mendapatkan review-review apik dari berbagai sumber, akhirnya saya terbujuk rayuan ajakan untuk menonton film ini, karena kebetulan emang lagi bosen dan lagi banyak duit.

Film ini bercerita mengenai operasi militer gabungan antara militer Inggris, Amerika Serikat, serta Kenya; yang dinamakan operasi Egret, yaitu operasi militer yang memata-matai kelompok teroris yang termasuk daftar 5 orang yang paling dicari di Afrika. Operasi militer ini dikomandoi oleh militer Inggris yang dipimpin oleh Colonel Katherine Powell (diperankan oleh Hellen Mirren (RED, National Treasure: Book of Secret) yang berkoordinasi dengan pemerintahan Inggris dalam langkah-langkah pengambilan keputusan dalam operasi ini.Walaupun pihak Inggris yang mengambil keputusan, tetapi drone yang dipakai dalam operasi militer ini dikendalikan oleh pihak Amerika Serikat, serta aksi darat –jika dibutuhkan– merupakan tugas militer Kenya. Ya, operasi Egret ini menggunakan pesawat drone dalam memata-matai teroris dan memastikan bahwa mereka berada dalam satu tempat untuk kemudian ditangkap dan drone inilah yang disebut Eye in the Sky.

Penggunaan pesawat drone ini merupakan sesuatu yang baru dalam film yang bergenre militer, dan (hampir) tidak ada aksi tembakan ataupun ledakan sepanjang film. Sepanjang film kita akan diajak melihat sisi lain operasi militer, di mana pemerintah dan militer mempertimbangkan strategi apa yang akan diambil dan mengacu kepada citra gambar yang diperoleh dari pesawat drone yang mengintai markas teroris. Terjadi perdebatan apakah seharusnya tetap seperti rencana awal untuk menangkap teroris-teroris —yang 2 diantaranya adalah warga negara Inggris— atau menyerang markas teroris selagi daftar buruan teratas berada dalam satu tempat, yang merupakan hal yang paling dekat dalam pencarian teroris-teroris ini selama 6 tahun terakhir.

Perdebatan sengit inilah yang menjadi fokus utama dalam film ini, dimana Colonel Powell yang tidak ingin target yang sudah dikejarnya selama 6 tahun lolos begitu saja, tetapi pihak pemerintah tidak semuanya sepakat atas nama legalitas politis dan manusiawi. Perseteruan ini akan membuat penonton ikut terlarut didalam konflik ini, dan semakin lama mengikutinya maka akan semakin masuk perasaan kita karena kedua opsi sama-sama masuk akal dan benar. Dalam waktu yang semakin sempit, keputusan harus diambil, apapun resikonya. Selain apik dalam membawakan konflik politis, film ini juga sukses memasukkan sedikit komedi ringan melalui sarkasme ataupun tingkah laku para pelakunya. Dan disini entah cuma sata atau enggak, satu atau dua kata yang diucapkan oleh alm Alan Rickman seperti nada-nada ucapan Severus Snape.

Secara keseluruhan film ini sangat saya rekomendasikan. Tetapi bagi yang mengarapkan aksi tembak-tembakan atau banyak ledakan lebih baik jangan nonton, atau setidaknya ganti ekspetasinya. Dan disarankan juga kalo nonton film ini dalam keadaan fit dan bahagia, karna penggunaan militer dari 3 negara ini akan sedikit membingungkan kalo tidak benar-benar memperhatikan. In short, i can say that this movie is a pleasant surptise.

Rating film: ★★★★☆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s