[Minor-Spoiler Review] X-Men Apocalypse; Just Typical Superhero Movie

X-Men_Apocalypse_International_Poster
Foto oleh 20th Century Fox

      Film superhero kembali hadir, setelah sejak 3 bulan lalu telah muncul Deadpool, Batman v Superman, serta Captain America: Civil War, sekarang giliran keluarga mutant yang muncul dilayar lebar: X-Men Apocalypse. Setelah sebelumnya 2 film prequel X-Men sukses dalam X-Men First Class (2011) dan X-Men Days of Future Past (2014), apakah X-Men Apocalypse bakalan menyusul kesuksesan 2 film sebelumnya, atau gagal total seperti film ketiga original trilogy X-Men, X-Men The Last Stand?

      Film ini mengambil latar belakang pada tahun 1983, 10 tahun setelah kejadian dibagian akhir Days of Future Past. Tidak seperti 2 film sebelumnya yang secara cerdik mengambil potongan sejarah menjadi bagian dari film, X-Men Apocalypse tidak seperti berlatar belakang pada tahun 1983 dan bisa saja mengambil latar belakang tahun berapapun. Terlebih lagi aktor-aktor tidak terlihat bertambah tua dalam rentang waktu 20 tahun sejak First Class, semacam kelemahan dalam film ini. Bahkan kalo gak bahas film ini sehabis film ini selesai, saya gak bakal inget kalo latar belakangnya tahun 1983 (thanks to that reference of famous movie in 1983).

      Seperti judulnya, film ini menceritakan dunia menghadapi kebangkitan Apocalypse/En Sabah Nur, mutant pertama di dunia, yang diperankan oleh aktor berbakat Oscar Isaac. Tetapi sayangnya tokoh antagonis dalam film ini menurut saya menjadi hal yang paling lemah dalam film ini. En Sabah Nur yang dikatakan sebagai mutant tertua dan terkuat, terlihat hampir tidak melakukan sesuatu yang signifikan, dan menyia-nyiakan kemampuan acting Oscar Isaac.

    James McAvoy, Michael Fassbender, Jennifer Lawrence, dan Nicholas Hoult masih sangat apik membawakan karakter Charles Xavier/Professor X, Erik Lehnsherr/Magneto, Raven/Mystique, Hank McCoy/Beast. Karakter-karakter baru seperti Sophie Turner sebagai Jean Grey, Tye Sheridan sebagai Scott Summer, dan Kodi Smit sebagai Kurt Wagner/Nightcrawler cukup baik membawakannya –walau tidak bisa dibilang bagus—tapi mungkin ini karena kurangnya waktu mereka untuk “bersinar”. Dan seperti pada Days of Future Past, Evan Peters memiliki screen stealer time sebagai Quicksilver, yah walaupun cuma seperti versi lebih panjang dari scene paling diperbincangkan difilm Days of Future Past. Bukan, saya bukan mengeluh, bahkan saya sangat suka scene ini, dan jadi scene terbaik difilm ini menurut opini saya.

      Dalam segi cerita film ini cukup lambat dan sepertinya hanya bakal bisa dinikmati oleh yang sudah menonton film X-Men sebelumnya, minimal 2 film sebelum film ini. Melihat hubungan antara Charles Xavier, Raven, dan Erik memiliki magnet tersendiri, ditambah munculnya kembali Moira menjadi suatu yang menyenangkan untuk dilihat. Dari segi fight scene ini seperti melihat film live-action dari anime Dragon Ball Z, yang walaupun tidak se-awesome Batman v Superman (IMO it has the best fight scene in superhero movies this year so far) tapi tetap sangat nikmat secara visual.

      Sangat susah emang menyamai First Class yang dengan apik mengenalkan masa awal X-Men serta Days of Future Past yang secara cerdik memanfaatkan time travelling dalam penceritaannya. Sayangnya film ini tidak menyuguhkan sesuatu yang baru dan gagal memberikan hasil yang seharusnya bisa disuguhkan dengan lebih baik. Seperti Avengers Age of Ultron, film ini cuma membuka gerbang untuk film selanjutnya. Decent, but not good enough.

Rating film: ★★★☆☆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s