(No Spoiler Review) The Angry Birds Movie; Bukan Hal Bodoh Kalau Berhasil

angry-birds
Foto oleh Rovio Entertainment dan Columbia Pictures

     Jika perusahaan memiliki hak atas karya dan karya tersebut memiliki tingkat popularitas yang tinggi, manfaatkanlah hal tersebut dalam segala hal untuk menguntungkan perusahaan. Hal inilah yag pasti dipikirkan oleh pemilik hak cipta game Angry Birds, yaitu perusahaan yang bermarkas di Finlandia, Rovio Entertainment. Disaat Rovio Entertainment mengumumkan akan memproduksi The Angry Birds Movie, banyak yang mempertanyakan apakah hal tersebut memungkinkan atau hanya usaha perusahaan untuk mendapatkan keuntungan. Terlepas dari kontroversi tersebut, Rovio tetap memproduksi The Angry Birds Movie yang rilis Mei 2016.

      Plot dari film ini tetap berpedoman pada inti cerita dalam versi game Angry Birds, yang menceritakan sekumpulan babi berwarna hijau mencuri telur-telur para burung. Tokoh utama dalam film ini juga sama dengan versi game, dengan Red si burung merah pemarah (yang disuarakan Jason Sudeikis), burung kuning yang cepat bernama Chuck (Josh Gad), serta burung besar hitam bernama Bomb (Danny McBride). Trio burung ini bersama burung lainnya mencoba membawa kembali telur mereka yang direbut oleh sekelompok babi. Ini beneran biantang babi ya, bukan ungkapan. Oke sip.

      Tidak seperti film animasi sebelum ini, Zootopia, yang bisa dinikmati orang dewasa tetapi mungkin agak terlalu berat untuk anak-anak, The Angry Birds Movie ini sangat ditujukan untuk anak-anak dengan cerita yang sederhana dengan dibumbui guyonan-guyonan ala kartun yang waktu kecil saya nikmati. Gaya penceritaan yang bodoh ini bakalan gak disukai penonton dewasa yang terlalu serius. Dalam menikmati film ini ada bagian yang menurut saya terlalu apa banget dan jatuhnya gagal total.

      Secara cerita memasuki bagian pertama pada awal film ini saya masih sangat menikmati dan penasaran akan jalan cerita selanjutnya. Tetapi sayangnya bagian tengah film, disaat sekelompok babi mulai tampil, cerita semakin gak karuan dan upaya-upaya melucu menjadi garing, apalagi bagian akhir dari second act ini sebelum memasuki third act film. Entah anak kecil bisa menikmati itu, tapi aku gak bisa menikmati bagian ini. Untungnya pada third act film ini sang sutradara, Clay Kaytis dan Fergal Reilly, sukses membayar kesalahan dengan menampilkan bagian akhir yang mengambil gaya ala game Angry Bird secara mengesankan.

      Seperti yang sudah saya ceritakan, film ini ditujukan untuk anak-anak jadi jangan berharap film dengan tema menyentuh macam Inside Out atau sekompleksitas Zootopia, jadi tidak disarankan untuk yang suka nonton film terlalu serius. Tapi bagi yang memang masih bisa menyukai film dengan sentuhan sederhana, film ini layak untuk ditonton. Terlebih lagi bagian akhir yang menggunakan sentuhan ala game-nya sangat amat menyenangkan untuk dilihat. Dan bagi kalian yang sangat suka nonton film, bakalan menemukan beberapa scene terkenal dari beberapa film yang direplikasi dalam film ini, dan juga beberapa karya dunia nyata –seperti yang dilakukan oleh film Zootopia– yang dibuat menjadi versi burung. Selain itu pemilihan lagu dalam film ini –yang hanya bakal dinikmati oleh penonton dewasa– juga sangat menyenangkan, terasa pas.

Rating film: ★★★½

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s