[No Spoiler Review] The Conjuring 2; Film Horror dengan Sentuhan Baru

the-conjuring-2-banner
Foto oleh New Line Cinema

      The Conjuring berhasil meraih kesuksesan besar pada 2013. Tidak hanya secara finansial yang meraih $137,4 juta (sumber dari Box Office Mojo) tetapi juga mendapatkan pujian dari kritikus ataupun penonton. The Conjuring sukses membuat ketakutan bagi penonton –yang pastinya mengharapkan hal ini dari menonton film horror– serta memiliki beberapa adegan yang tidak hanya ngeri tetapi bisa membekas diingatan. Tahun 2016 sang master horror, James Wan, kembali menjadi sutradara sekuel kelanjutannya berjudul The Conjuring 2.

      Plot yang ditawarkan The Cojuring 2 sebenernya sangat klasik: rumah berhantu, diawali gangguan-gangguan kecil, makin parah, dan hampir semua terjadi pada malam hari. Tetapi ‘The Conjuring 2’ ini menawarkan  sesuatu yang berbeda dari ‘bumbu’ romantisme antara Ed Warren (Patrick Wilson, “Watchmen”, “Insidious”) serta istrinya sesama ‘pemburu hantu’, Lorraine Warren (Vera Farmiga, “Up in The Air”, “The Departed”). Kali ini mereka mengarungi belahan dunia lainnya untuk menyelesaikan salah satu kasus mereka yang paling diliput, yaitu kasus di Enfield, London.

      Walaupun seperti film sebelumnya yang butuh lebih dari sekitar 30 menit untuk membangun cerita hingga akhirnya pasangan Warren ini untuk mengunjungi rumah berhantu, teteapi dalam film ini sayangnya pacenya terlalu lambat. Cara menakut-nakutinya juga terlalu repetitif dan mudah ditebak. Gak ada hal yang bisa diingat macam hide-and-clap pada film sebelumnya. “Setan utama” film ini, Valak, juga gak seheboh meme yang beredar. CGI setan crooked man juga terlihat aneh.

      Untungnya film ini memiliki Vera Farmiga dan Patrick Wilson sebagai pasangan suami istri Lorraine dan Ed Warren. Chemistry mereka yang meyakinkan membuat kita percaya bahwa mereka suami-istri yang percaya satu sama lain. Selain itu juga ada Madison Wolfe yang bermain sangat amat apik sebagai Janet Hodgson, gadis berusia 11 tahun yang ‘mengaku’ dirinya diganggu makhluk gaib.

      Selain itu permainan kamera serta lighting yang secara apik diarahkan oleh James Wan membuat efek ngeri dan penasaran penonton, yang walaupun cara menakutinya biasa tapi dengan permainan kamera ini ketakutan dan adrenalin meningkat. Bahkan ada satu bagian one-shot yang bikin saya bergumam “shit, aku salah lihat gak? bisa diulang gak itu?”

      Cara penyampaian cerita juga sedikit banyak membuat penonton sedikit dibuat penasaran. Seperti kisah aslinya yang sampai saat ini juga masih diperdebatkan apakah asli atau hanya hoax, film ini juga membuat penonton mempertanyakan keasliannya. Walaupun dari awal penonton diperlihatkan bahwa kejadian itu benar terjadi, tapi penonton –atau setidaknya saya pribadi– beberapa kali mempertanyakan keasliannya.

      Sebagai film horror mungkin biasa aja, tapi tetap masih bisa membuat penonton ketakutan dan adrenalin meningkat. Sebagai orang yang gak begitu suka film horror saya menikmati film ini, setelah film horror terakhir yang saya tonton, Poltergest (2015), ya gitu banget bahkan lebih horror “(500) Days of Summer”. The Conjuring 2 ini masih bisa diperdebatkan lebih serem mana dari film sebelumnya, tapi untuk direct sequel (anggap saja tidak pernah ada film “Annabelle”) bisa dikatakan sukses.

Rating film: ★★★½

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s