[No Spoiler Review] Don’t Breathe; Kengerian yang Membuat Menahan Nafas

dont-breathe-2016-poster
Foto oleh Ghost House Pictures

★☆

            Setelah bingung memilih film apa yang akan ditonton, akhirnya memutuskan memilih Don’t Breathe, berpedoman rekomendasi orang kepercayaan dalam urusan film. Melihat dari posternya saya kira bakal nonton film horor hantu, ternyata dugaan saya salah dan film ini lebih ke horror thriller. Tapi sesuai dugaan –dan rekomendasi—, film ini menyajikan ketegangan selama kurang lebih 90 menit.

            Saya rasa gak asik kalo nonton film ini udah tahu ceritanya –saya gak baca sinopsis atau nonton trailernya merasa terkejut– dan disarankan juga gak usah lihat trailernya karena ada spoiler dikit sebelum nonton film ini. Tapi saya bisa jamin bakal dapat ketegangan (hampir) full selama 90 menit. Film horror umumnya cuma jump scares kemudian slow lagi, tapi Don’t Breathe tidak demikian. Dari scene jump scare satu ke jump scare lain secara bertubi-tubi, ketika dirasa bakal berhenti kemudian penonton sudah menebak tidak bakal cuma sampai segitu dan menunggu ketegangan berikutnya.

            Daya tarik yang dibawa sutradara Fede Alvarez adalah sinematografi yang artistik. Berbeda dengan film action atau film superhero yang mengandalkan CGI untuk menghasilkan keindahan, film horror pada umumnya menggunakan pergerakan kamera dan lightning untuk membangun tensi ketegangan sekaligus menambah estetika film.

            Scene paling favorit adalah ketika menghadapi kegelapan total. Di saat film lain lebih memilih untuk menggunakan tampilan night vision berwarna kehijauan, Fede Alvarez lebih memilih untuk menampilkan dalam hitam putih, sort of, untuk lebih menimbulkan kengerian yang ditampilkan serta kecerdikan tersendiri bagi salah satu karakter.

            Selain itu sound yang dipake juga dimanfaatkan dengan baik untuk menambah kengerian. Bukan hanya sound yang menggelegar dan tensi tinggi, tapi ketika tanpa suara sama sekali juga berhasil menambah ketegangan tersendiri.

            Sayangnya karakter yang dimunculkan ada sedikit kekurangan dalam membangun karakterisasinya. Daniel Zovatto sebagai Money cuma seperti tipikal scumbag, dan Dylan Minnette (Goosebumps, The Prisoners) sebagai Alex tidak diberi alasan yang kuat untuk melakukan *spoiler*, tetapi untungnya Jane Levy –yang entah kenapa saya kepikiran Reese Witherspon— menjadi karakter yang paling ‘jelas’ dari trio ini. Stephen Lang tokoh antagonis yang sangat menyeramkan walaupun tidak memiliki dialog selama sekitar sejam durasi, sebelum akhirnya mendapatkan dialog.

            Dengan artistic kamera dan pengaturan cahaya serta suara, Don’t Breathe menawarkan film horror thriller selama sekitar 90 menit. Walaupun terbilang miskin dialog, justru dapat dimaksimalkan dengan baik untuk menciptakan kengerian tersendiri. Selama menonton film mungkin bakal ada perang moral dalam diri untuk menilai pihak manakah yang benar, tapi ketegangan satu dan ketegangan lain yang bertubi-tubi membuat masa bodoh dengan pikiran kita sendiri. Endingnya yang sedikit WTF tidak mengurangi keindahan film ini.

Rating film: ★★★★½

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s