[Ulasan Film] Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss! Part 1

poster-film-warkop-dki-reborn-jangkrik-boss
Foto oleh Falcon Pictures

      Di Indonesia sekarang ini sedang maraknya hiburan komedi, baik berupa stand up comedy, acara-acara komedi, akun media sosial komedi, ataupun dalam bentuk meme. Tak heran jika Warkop DKI sebagai legenda komedi Indonesia berusaha untuk dihidupkan kembali ke dunia hiburan Indonesia, bukan hanya sekedar untuk nostalgia tapi juga meramaikan komedi Indonesia masa sekarang.

      Warkop DKI Reborn ini sendiri mengambil cerita tentang Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) sebagai anggota CHIPS (Cara Hebat Ikut-Ikutan Penanggulangan Sosial) yang membantu tugas aparat kepolisian. Selain mengambil CHIPS, ada beberapa potongan film Warkop dahulu yang dimasukkan untuk sekadar menambah rasa nostalgia.

      Seperti film trilogy Comic 8 yang juga karya Anggy Umbara, Warkop DKI Reborn memiliki metode yang bisa dikatakan sama. Komedi yang bisa dikatakan receh dan dibumbui special effect –yang menurut saya sangat amat tidak perlu—menjadi resep utama sutradara Anggy Umbara. Tapi sayangnya seperti film trilogy Comic 8, saya gak bisa menangkap sebagian besar sisi komedi yang berusaha ditampilkan.

      Selain special effect yang terkesan dipaksakan, cerita yang kadang dimasukkan sedikit sindiran juga terkesan maksa banget. Ada juga adegan yang masukin lagu legendaris Warkop, tapi cenderung maksa dan gak pas banget, gak kayak adegan originalnya yang sangat pas dan keren. Pas adegan itu malah saya komen ‘itu gak kenapa langsung aja malah nunggu bubar’. Kalo udah nonton pasti tau ini adegan yang bagian mana.

      Warkop DKI Reborn ini juga masih memiliki unsur-unsur yang ada di film-film Warkop terdahulu. Tapi sayangnya seperti film Warkop terdahulu, pemeran wanita di Warkop DKI Reborn hanya dijadikan sebagai objek saja. Semua pemeran wanita yang muncul cuma jadi objek sexist dalam film dan tidak memiliki peran yang berarti. Mungkin emang niatnya cuma buat guyonan aja, tapi kalo cara guyonnya begitu ya sama saja merendahkan sih.

      Jika emang suka trilogy Comic 8, pasti mendapatkan kenikmatan yang sama dan mendapatkan hiburan. Jika gak bisa menikmati komedi Comic 8, ya bakal cuma bisa bengong dan komen ‘apaan sih’ sepanjang film macam saya. Saya padahal memiliki sense of humor yang agak rendah, tapi sepanjang film paling cuma senyum gak sampe 5 kali dan sama sekali gak pernah ketawa, padahal sepanjang film sering terdengar penonton lain ketawa ngakak.

      Judulnya yang part 1 dan ending film yang sengaja dibikin gantung, tapi saya gak yakin bakal nonton part 2 di bioskop. Beneran jangkrik.

Rating film: ★★☆☆☆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s