[Ulasan TV Series] Luke Cage

marvel-luke-cage-poster
Foto oleh Marvel dan Netflix

                    Akhirnya tanggal 30 September 2016 seri ketiga –Daradevil sudah mendapatkan 2 season dan Jessica Jones 1 season—dari 4 seri  superhero Marvel yang akan diangkat oleh layanan streaming, Netflix, rilis juga. Luke Cage merupakan superhero kulit hitam yang memiliki kekuatan luar biasa serta kulitnya gak bisa ditembus, yang sebelumnya sudah sering muncul di serial Jessica Jones.

                Seperti series Netflix lainnya, Luke Cage pada dasarnya merupakan satu film panjang yang dibagi dalam beberapa episode. Berbeda dari series Marvel produksi Netflix sebelumnya, kali ini setting tidak bertempat di Hell’s Kitchen –bukan acara memasak itu, tapi nama daerah sekitar New York—tapi sedikit bergeser ke timur laut di Harlem.

                Serial Marvel sendiri masih pada universe yang sama dengan MCU –beberapa kali ada reference tentang Avengers dan Justin Hammer!— dan menjelaskan dampak peristiwa yang ditimbulkan Avengers terhadap masyarakat Amerika Serikat, khususnya New York, baik yang biasa ataupun yang memiliki kemampuan istimewa. Inilah asiknya Marvel yang memperluas universe yang ada, bukannya malah membagi universe layar lebar dan layar kaca seperti yang dilakukan DC yang membuat bingung penonton, khususnya yang awam terhadap buku komik.

                Salah satu hal yang menyenangkan dari serial Marvel produksi Netflix adalah para street-level superheroes ini memiliki masalah yang lebih mendekati kepada masalah dunia nyata, bukan masalah menyelamatkan dunia dari serangan alien. Luke Cage sendiri mengangkat tema permasalahan orang kulit hitam ataupun situasi politik, yang mana kedua masalah tersebut merupakan masalah yang mudah dijumpai di Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir.

                Cerita yang disajikan dalam Luke Cage sayangnya terkesan lambat, khususnya pada episode awal hingga pertengahan episode. Ini mungkin karna ‘tuntutan’ untuk mengisi 13 episode, bukan menjadikan 13 episode karna emang banyak yang diceritakan. Ceritanya juga lebih ke drama dan Luke Cage jarang sekali mempergunakan kekuatannya, padahal saya berharap dengan kemampuan yang ia miliki bisa bikin fight choreography yang asik, walaupun mungkin sulit menandingi kegilaan Daredevil tapi setidaknya seasik itulah.

                Selain cerita yang agak lambat, ada beberapa plot hole yang cukup mengganggu sepanjang season. Cerita yang lambat ini tertolong oleh plot twist yang cukup sering yang menambah seru jalannya cerita. Disamping itu walaupun memiliki shared universe dengan film layar lebarnya, seolah-olah Avengers tidak cukup terkenal dan masih sering disebut dengan sebutan ‘green monster’, ‘dude’s magic hammer’ dsb, padahal di Captain America: Civil War diperlihatkan kalo Avengers ini punya dampak yang cukup signifikan bagi society.

                Untungnya Luke Cage memiliki barisan tokoh yang kuat. Tidak seperti Jessica Jones dan Daredevil season 1 yang hanya berfokus kepada 1 tokoh antagonis, Luke Cage memiliki Cornel “Cottonmouth” Stokes (Mahershala Ali), Mariah Dillard (Alfre Woodard), Shades Alvarez (Theo Rossi), dan Willis “Diamondback” Stryker. Banyaknya tokoh antagonis ini memungkinkan untuk berkembangnya cerita menjadi tambah asik seiring berjalannya serial ini dan berhasil membuat menarik walaupun tidak ‘dibumbui’ special effect layaknya cerita superhero pada umumnya.

                Selain tokoh antagonis, pemeran pembantu serial ini juga likeable khususnya Misty Knight (Simone Missick), Scarfe (Frank Whaley), dan Claire Temple (Rosario Dawson). Khusus Rosario Dawson yang sudah memerankan Claire di semua serial Marvel produksi Netflix, kemungkinan besar dia merupakan ‘penghubung’ para street-level superhero ini untuk bergabung ke The Defenders (tinggal Iron Fist yang belum muncul). Kemungkinan ia jadi Night Nurse juga udah diperlihatkan pada serial ini.

Kumpulan lagu yang dijadikan soundtrack juga bisa dibilang menjadi catatan positif serial ini, dan menurut saya ini merupakan kumpulan soundtrack paling asik yang pernah Marvel bikin, bahkan lebih baik dari Guardian of the Galaxy. Bagi saya yang gak (begitu) tertarik sama music hip hop dapat menikmati alunan lagu sepanjang serial ini menjadi alasannya.

Rating tv series: B

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s