[Ulasan Film] Inferno; Adaptasi yang Mengecewakan

mv5bmtuznte2ntkzmv5bml5banbnxkftztgwmdazotuymdi-_v1_sy1000_cr006741000_al_1
Foto oleh Columbia Pictures

      Robert Langdon kembali lagi setelah 7 tahun sejak film pertamanya, Angels and Demons, dan 10 tahun sejak film pertama, The Da Vinci Code. Film ketiga ini mengangkat novel keempat petualangan Robert Langdon karya Dan Brown, entah memang sengaja dibuat lompat –film pertama diangkat dari buku kedua, film kedua diangkat dari buku pertama, film ketiga dari buku keempat—atau memang karna Inferno dianggap banyak penggemar sebagai buku terbaik dari series petualangan tokoh Robert Langdon.

      Tom Hanks kembali memerankan sosok professor seni ini. Layaknya James Bond yang selalu berganti partner wanita, professor Langdon juga selalu berganti partner wanita yang lebih muda dan tentu saja cantik, kali ini bernama Sienna Brooks (diperankan Felicity Jones).  Bergabung dalam film ini yaitu Ben Foster, Irrfan Khan, Sidse Babett, dan beberapa aktor/aktris pembantu lainnya.

      Dengan pace yang cepat, karakter utama yang amnesia, dan petualangan aksi yang menjelajahi tempat-tempat eksotis di Eropa, Inferno ini bisa dikatakan film Jason Bourne versi bapak-bapak yang udah agak berumur. Sebenernya ini juga yang ada di pikiran saya ketika pertama kali membaca bukunya waktu kuliah dulu. Tapi sayang seperti kebanyakan film dari adaptasi buku, film ini gak sekeren waktu baca bukunya.

      Film ini memiliki kekurangan dalam hal yang paling esensial dari seri buku karya Dan Brown, yaitu rasa menyenangkan dalam memecahkan masalah/petunjuk. Dengan pace dan dialog yang cepat sejak awal hingga lebih dari setengah durasi film, penonton diberi waktu yang sangat sedikit untuk benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi dan petunjuk apa yang digunakan. Saya banyak terbantu karna sudah baca bukunya, kalo gak ya mungkin bakal kayak yang duduk disebelah saya yang nanya mulu ‘itu kenapa bisa gitu?’.

      Plot twist walau gak sebanyak dibuku tapi sama-sama bikin penasaran, tentunya baiu yang belum baca bukunya. Sayangnya bagian plot twist paling besarnya, gak semencengangkan bukunya karna dibuku permainan kata Dan Brown sangat jenius  dan bisa mempermainkan pikiran pembaca sehingga pas dibongkar bikin nggumam “f*ck” dan kemudian kembali ke beberapa halaman sebelumnya untuk ngecek kembali.

      Sebagai adaptasi dari film petualangan yang berdasarkan karya-karya arsitektur ataupun karya seni patung/lukisan, film ini cuma sekelebat saja menampilkan karya-karya indah ini. Dulu waktu baca bukunya sambil berimajinasi, saya juga duduk depan laptop sambil searching lokasinya untuk menambah kenikmatan dan membantu untuk memvisualisasikan apa yang ada dalam buku.

      Hal yang sedikit menyelamatkan film ini adalah gimana suradara Ron Howard bikin visualisasi dari lukisan-lukisan dan memori Langdon diawal film. Ending film yang bertolak belakang dengan ending buku juga menjadi nilai tambah sendiri, karna saya pas baca ending bukunya juga agak kecewa karna antiklimaks walau set-upnya sangat keren.

      Kalo saya nonton film ini waktu SMA, mungkin saya bakal suka. Seperti 2 film sebelumnya yang waktu SMA dan kuliah saya nonton berkali-kali dan suka, tapi beberapa hari yang lalu nonton lagi ternyata filmnya tidak sebagus yang saya ingat karna banyak plot hole di  sana sini. Jadi yang suka 2 film sebelumnya bakal masih bisa menikmati film ini, tapi kalo yang gak bisa menikmati 2 film sebelumnya ya mungkin berakhir kecewa seperti saya.

Rating film: ★★★☆☆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s