[Ulasan Film] Doctor Strange; Benar-benar Aneh, dalam Artian Baik

doctorstrange0014
Foto oleh Marvel Studios

 

               Marvel dibawah pengawasan yang mulia Kevin Feige, berhasil membangun universe mereka dengan baik dan beragam serta membawa karakter-karakter yang gak terlalu terkenal dan dirasa cukup sulit diangkat ke layar lebar. Siapa sangka gerombolan makhluk ‘sampah’ yang awalnya gak terkenal kecuali sama pembaca komik yang hardcore, malah sukses di Guardians of the Galaxy, dan cerita heist yang dilakukan oleh seorang yang bisa mengecil bisa jadi tontonan yang menarik dan menghibur? Kali ini mereka mencoba membawa Marvel Cinematic Universe (MCU) ke dunia sihir.

                Doctor Strange berisi aktor dan aktris papan atas macam Benedict Cumberbatch, Rachel McAdams, Tilda Swinton, Mads Mikkelsen, Benedict Wong, dan Chiwetel Ejiofor. Benedict Cumberbatch dengan aksen Amerika-nya cocok jadi sang Sorcerer Supreme, yah walaupun gak susah-susah amat sih karna mirip sama Sherlock –bahkan waktu adegan pertama saya seperti lihat adegan pertama Sherlock season 1 episode 1—.

                Cerita dan plot Doctor Strange gak ada yang special dan mirip kayak kebanyakan film origin superhero. Film ini juga mudah ditebak seperti film Marvel –atau film superhero—pada umumnya: cerita dan pertarungan kecil di awal pada akhirnya akan sampai pada pertarungan akhir yang lebih besar. Tapi sang sutradara, Scott Derickson, memiliki cara lain yang baru (gak baru banget sih) dan menyenangkan dalam pertarungan akhirnya, walau gak seaneh-tapi-keren ibunya sama-sama bernama Martha dance off ala Star Lord.

               Daya tarik utama film ini ada pada visual effect yang ditampilkan dan merupakan hal yang baru serta memberikan sesuatu yang menarik, khususnya pada fight scene. Film ini memanjakan aspek visual yang jarang diberikan pada film superhero, menonton di IMAX sepertinya menjadi pengalaman yang menyenangkan (yang sayangnya saya gak merasakan itu). 2 dari 3 adegan fight scene yang epik sangat sebanding harga tiket IMAX.

                Tema cerita Doctor Strange yang gak biasa, bisa bikin penonton merasa aneh dan gak merasa kalo ini film superhero. Tema yang sedikit kudu mikir –mungkin lebih mbingungi ketimbang Thor Dark World—bikin penonton yang gak memperhatikan akan bertanya-tanya ‘kok bisa gitu?’ atau ‘itu maksudnya apa’. Bahkan ada beberapa lawakan yang cukup mikir diantara banyak lawakan yang ringan (dengan eksekusi yang tepat), sehingga (sepertinya) cuma saya yang ketawa dalam satu ruang bioskop (atau selera humor saya yang receh). “My name… It’s Strange” kemudian dijawab lawannya “Maybe. Who am I to judge?” lucu kan? Yak kan? Ya kan?

             Sayangnya seperti film Marvel lainnya, tokoh villain film ini gak memorable dan tersingkirkan. Padahal penampilan Mads Mikkelsen begitu meyakinkan, sayang banget gak bisa dimanfaatkan. Selain itu tokoh yang diperankan Rachel McAdams juga gak dimanfaatkan dengan baik sebagai love interest sang dokter. Menyia-nyiakan talenta aktor dan aktris luar biasa.

             Selain itu sebagai film yang menggabungkan barat dan timur (sebagian besar setting di Nepal dan Hongkong) film ini kurang nuansa timurnya. Bahkan tokoh yang berdarah Asia cuma Benedict Wong, yang walaupun tiap kemunculannya menyenangkan tapi tetap cuma selingan. Pilihan untuk ‘memutihkan’ The Ancient One saya rasa gak ada justifikasinya, walaupun Tilda Swinton cukup baik memerankannya. Timeline film ini juga membingungkan, kalo dilihat sebuah piagam di film ini settingnya tahun 2016, tapi di Captain America: The Winter Soldier (2013) nama Strange udah disebut. Ku bingung.

              Walau ceritanya template, tetapi dengan tema baru serta visual effect yang memukau menjadikan Doctor Strange tambahan yang menarik pada MCU. Dengan kekampretan sang penyihir, sepertinya gak bakal susah bergaul sama anggota Avengers lainnya. Dan saya berharap semoga ‘Cloak of Levitation’ bisa memenangkan Oscar kategori Best Supporting Role!

Rating film: ★★★★☆

P.S.: Jangan lupa ada 2(DUA) scene tambahan di mid-credit dan after-credit. (Saya rasa sih clue menuju Thor Ragnarok)

P.P.S.: Gak perlu nonton film Marvel sebelumnya, soalnya sama sekali masih belum nyambung ke film sebelumnya, kecuali Infinity Stones ke-5 a.k.a. batu akik Thanos, Tinggal 1 akik yang belum ketahuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s