[Ulasan Film] Rogue One: A Star Wars Story

rogueone_onesheeta_1000_309ed8f6
Foto oleh Lucas Film dan Walt Disney

      Star Wars rilis 16 tahun sebelum saya lahir, tapi saya terpukau waktu pertama kali nonton waktu SD dan jatuh cinta pada franchise ini waktu memasuki SMA. Setelah tidak begitu mendapat respon baik melalui prequel trilogy diakhir 90an dan awal 2000an, franchise Star Wars dibangkitkan lagi setelah Lucas Film yang memiliki hak cipta Star Wars diambil alih Disney dan melalui sutradara  JJ Abrams membangkitkan keindahan film Star Wars melalui The Force Awakens tahun lalu.

      Rogue One sendiri merupakan film ke-8 Star Wars dilihat dari tahun tayangnya, tapi merupakan film ke-4 secara kronologis (bingung? Mungkin searching sebentar di google akan membantu). Sumber cerita Rogue One sendiri berasal dari 3 paragraf opening crawl di film Star Wars episode IV: A New Hope, yang mengisahkan misi para rebels untuk mencuri cetak biru Death Star, sebuah senjata mematikan yang dimiliki Empire di A New Hope. Film ini selain mengisahkan cerita tersebut juga memberikan back story sekaligus memberikan rasionalitas dan justifikasi terhadap kejadian di A New Hope, sebuah plot hole yang hampir 40 tahun bakal ‘dibereskan’ di film ini.

      Karakter-karakternya tidak ada yang bikin kita terlalu simpati seperti trio Luke, Leia, dan Han di original trilogy, atau Rey, Finn, dan Poe di The Force Awakens, ataupun Obi-Wan Kenobi di prequel trilogy. Diego Luna sebagai mata-mata rebels cuma jadi orang yang nyebelin tapi gak se-nyebelin-tapi-adorable Harrison Ford sebagai Han Solo. Felicity Jones sebagai Jyn Erso sebenernya meyakinkan, tapi kalah menyenangkan dengan duo Chirrut (diperankan pemeran Ip Man, Donnie Yen) dan Baze (Wen Jiang). K-2SO juga menyenangkan, semacam C-3PO tapi lebih sarkastik (acungan jempol untuk sang pengisi suara, Alan Tudyk). Tokoh antagonisnya juga gak terlalu ‘wah’, sebelum akhirnya ada seorang yang muncul mengambil alih. *heavy breathing intensifies*

      Pace cerita Rogue One begitu cepat dan mampu membuat adrenalin meningkat, sama seperti yang saya rasakan tiap kali nonton Star Wars episode V: Empire Strikes Back. Tak dapat dipungkiri setengah durasi film begitu membingungkan dan macam pelajaran geografi yang memunculkan planet-planet begitu banyak (dan pertama kalinya ada keterangan tempat yang dimunculkan) serta dialog yang kurang nampol, tapi secara garis besar saya masih bisa menangkap jalan ceritanya.

      Memasuki setengah akhir film, film menjadi semakin menarik. Terlebih memasuki 3rd act yang begitu megah dan spektakuler. Mungkin ini semacam ciri khas Gareth Edwards yang juga menyutradarai Godzilla (2014) yang awal durasi kurang menarik tapi spektakuler di akhir. Film ini entah karena keberanian ataupun ‘keterpaksaan’ berani membuat film dengan tingkat kesuraman maksimal. Walau bagi (kebanyakan) fans udah tau bakal gimana, but it still hits us hard. Rogue One akan membuat para fans tertawa, terkagum, ataupun menangis (bahagia ataupun sedih).

      Rogue One dipenuhi ‘fan service’ yang bikin penikmat film-film sebelumnya tersenyum-senyum melihat tokoh ataupun mendengar dialog yang ditampilkan. Terlebih ketika 5-10 menit terakhir bakal bikin fans benar-benar girang (dan mungkin jadi jawaban kenapa jam tayang perdana di Indonesia serta negara-negara Asia Tenggara kemaren jam 16.30). Walau awal film gak ada opening crawl khas film Star Wars dan music karya John Williams, tapi kita tau bahwa ini film Star Wars yang mengisi beberapa pertanyaan tentang awal mula original Star Wars. Mengingat sang creator Star Wars, George Lukas, tidak ikut campur dalam produksi film ini, maka bisa dikatakan Rogue One adalah film fan fiction tapi resmi.

      Sangat amat disarankan sebelum nonton Rogue One untuk menonton A New Hope sebelum DAN sesudahnya.

“Walau hampir semua sepakat The Force Awakens sangat enjoyable tapi tidak membawa lebih luas ke Star Wars universe, hanya pengulangan cerita A New Hope dan sebagai introduction ke Star Wars universe untuk menarik penggemar baru. Tetapi Rogue One membawanya lebih luas lagi, walau dengan cerita yang begitu rumit bakal tidak mudah bagi yang awam. Tidak seperti A New Hope (atau The Force Awakens) yang membuat anak-anak pada saat itu (dan anak-anak generasi sesudahnya) begitu terkagum-kagum, Rogue One akan sulit dicerna dan bakal lebih sering bertanya ‘itu kenapa?’ ‘itu siapa?’ dan sebagainya. Rogue One benar-benar merupakan fan service yang dipenuhi referensi ke dialog-dialog lama, karakter lama, dan beberapa easter egg yang berserakan dimana-mana serta mengartikan kata War di Star Wars secara harfiah. Dengan 3rd act yang luar biasa cukup bagi saya untuk menginginkan mengulangi menonton lagi.” -ian_afas

“I’m with the Force, and the Force is with me.”

Grade: ★★★★✩

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s