[Ulasan Film] La La Land

1
Foto oleh Summit Entertainment

      Damien Chazelle tahun 2014 dengan Whiplash berhasil membuat saya terpana, walaupun saya gak suka-suka amat sama musik jazz. Tak heran ketika Chazelle akan memproduksi film musical, saya termasuk orang yang menantikannya. Terlebih lagi La La Land dibintangi aktris idola saya, Emma Stone, berpasangan dengan Ryan Gosling, yang bisa dibilang sudah terbiasa beradu akting setelah pernah berpasangan di film Crazy, Stupid,Love dan Gangster Squad.

      Seperti tagline filmnya, La La Land merupakan film yang berkisah tentang insan yang ingin mewujudkan mimpi.  Mia Dolan (diperankan Emma Stone) merupakan pramusaji yang berusaha menjadi aktris, sedangkan Sebastian (Ryan Gosling) merupakan seorang pianis jazz yang ingin menghidupkan kembali jazz seperti dahulu. Cerita ini dibalut dalam film bergenre musical, jadi La La Land ini bukanlah remake/prequel/sekuel film horror Thailand berjudul Ladda Land. Eh.

      Ceritanya sendiri tak lepas dari template 2 insan bertemu, menyatu, dan memiliki konflik dalam perjalanan kisah mereka. Tapi seperti yang dijelaskan sebelumnya, film ini merupakan kisah bagi mereka meraih mimpi. Apakah mimpi mereka akan menghalangi bersama orang terkasih, ataukah suatu saat mimpi ini biarlah terkubur dan settle dengan yang sudah ada saja. Mungkin emang sekilas mirip Whiplash, tapi 2 film ini memiliki kompleksitas konflik yang berbeda. Yang jelas penuturan cerita/storytelling La La Land tidak pernah keteteran sejak awal hingga akhir film. Ceritanya pun bisa relate dengan kisah banyak orang.

      Yang menjadikan La La Land begitu fenomenal adalah keberhasilan menggabungkan elemen-elemennya menjadi satu pertunjukan yang menyenangkan. Tarian dan koreografinya begitu menyenangkan mata dan membuat pengen bisa nari terus joget-joget bareng di pinggir jalan. Salah satu keberanian Damien Chazelle (dan acungan jempol untuk koreografer, Mandy Moore, serta cinematographer Linus Sandgren) adalah pada saat adegan menari diambil satu gambar panjang utuh tanpa potongan. Nyanyian serta alunan music jazz mengalun indah yang membuat kaki tak kuasa menahan untuk mengikuti irama musik. Visualnya? Saya sangat suka bagaimana Damien Chazelle menggunakan warna-warna indah yang membantu untuk mengatur tone film.

      Tak kalah pentingnya adalah penampilan Emma Stone dan Ryan Gosling dengan chemistry kuat yang menjadi magnet. Chemistry mereka yang kuat membuat penonton peduli dengan mereka serta menginginkan mereka untuk bersama. Selain itu bagaimana mereka menunjukkan kemampuan bernyanyi serta menari menjadi hal yang mengagumkan, terlebih lagi melihat Ryan Gosling memainkan piano yang saya yakin gak pake pemain pengganti. Damien Chazelle juga pintar memanfaatkan kelebihan Emma Stone dan banyak menggunakan close-up wajah yang menonjolkan mata dan ekspresi bibirnya yang membantu menampilkan emosinya, dan membuat saya entah berapa kali meleleh sepanjang film.

“Here’s to the ones who dream. Foolish, as they may seem.”

Rating: ★★★★★

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s