[Ulasan Film] Beauty and the Beast

onesheet
Foto oleh Disney

                Disney bisa dikatakan merupakan rajanya perusahaan bisnis di dunia. Walt Disney yang pada awal mendirikan Disney bermodalkan tokoh animasi ciptaannya yang berbentuk tikus, Mickey Mouse, kemudian semakin berkembang hingga sekarang. Dimulai dari mengadopsi dongeng-dongeng legendaris ke bentuk film animasi, mengubahnya dalam bentuk wahana taman bermain, hingga ke pertunjukan Broadway, Disney berhasil menciptakan sesuatu yang baru dan diterima sangat baik oleh masyarakat. Pada tahun 2010 yang dimulai dengan Alice in the Wonderland, Disney kembali berinovasi dengan mengadaptasi properti yang mereka miliki ke dalam bentuk film live-action.

               Sejak kemunculan trailer perdananya, Beauty and the Beast terlihat mengadaptasi secara penuh film animasi dengan judul yang sama ini. Mulai dari cerita, lagu, dan dialog nyaris tidak ada yang berbeda, cuma ada beberapa tambahan dan perubahan yang tidak terlalu signifikan. Hal ini dilakukan mungkin karena ingin memberikan efek nostalgia bagi penggemar film animasinya, atau mereka belum bisa menemukan cerita yang tepat untuk menggantikan alur cerita animasi Beauty and the Beast yang pada rilis tahun 1991 menjadi film animasi pertama yang mendapatkan nominasi Best Pictures (bukan Best Animation Pictures) di Oscars.

                Untuk sebuah film musikal, musical numbers Beauty and the Beast gak ada yang istimewa, kecuali waktu “Be Our Guest”. Jika dibandingkan dengan film animasinya, jelas masih kalah. Mungkin ini tak terlepas dari musical numbers di film animasinya banyak guyonan slapstick yang susah diterjemahkan dalam bentuk live-action. Tapi dibandingkan film musikal lain yang rilis tak terlalu lama, La La Land (karna masih segar dalam ingatan dan saya sudah nonton 4 kali, reviewnya bisa dilihat di sini), koreografi dan camerawork La La Land jauh lebih istimewa. Selain itu banyak nyanyian di Beauty and the Beast terdengar banyak dapat bantuan auto tune, gak natural.

        Walau saya bukan fansnya Emma Watson tapi dia benar-benar tampil layaknya princess. Tapi sayangnya dia gak diberikan wow moment seperti saat saya nonton Lily James di Cinderella (2015) ketika memasuki ruang dansa. Bahkan shot Kate Winslet waktu nunggu Leo di dekat jam di film Titanic bikin terlihat lebih anggun dan wow ketimbang shot kamera ketika Emma Watson waktu mau dansa. Karakter yang mencuri perhatian saya itu justru barang-barang rumahan yang disuarakan oleh Ewan McGregor (sebagai Lumière) dan Sir Ian McKellen (Cogsworth). Dan Steven sebagai Beast juga bagus sih menjadikan Beast jadi lebih sensitive serta Gaston (diperankan Luke Evans) di sini jadi lebih antagonis dibanding cuma cowok belagu yang (sok) macho.

                Terlepas dari pemberitaan media ataupun boikot dari beberapa kalangan karna karakter LeFou (diperankan Josh Gad) adalah seorang gay, tapi bagi saya itu berlebihan. Kalopun menunjukkan kalo dia itu gay sangat subtle, bahkan adegan yang katanya exclusively gay itupun gak sampe 3 detik diakhir film, blink-and-you miss-it moment. Kalo gak baca berita, tingkah laku LeFou sepanjang film cuma terjemahan yang lebih realistis dari konyolnya karakter LeFou di film animasinya.

                Apakah adaptasi live-action ini bakal lebih bagus atau malah lebih buruk? Setelah selesai menonton, jawabannya adalah keduanya. Disatu sisi menyenangkan dan sangat pas melihat animasinya diterjemahkan dalam bentuk nyata, tapi ada kalanya gak berhasil. Tambahan cerita masa lalu pangeran sebelum jadi Beast bagi saya membuat penonton lebih care dengannya, tapi tambahan ketika Belle dan Beast transport (atau time travel?) ke tempat masa kecil Belle, I don’t buy it.

                Beauty and the Beast walaupun memiliki cerita yang sangat mirip dengan cerita film animasinya, bukan berarti gak worth it. Film ini berhasil menerjemahkan film klasiknya tersebut ke dalam bentuk live action yang memiliki magis yang sama, walaupun masih dibawah standard dan harusnya bisa lebih baik lagi.

Untitled-1

Genre: Drama, Musical, Romance, Fantasy

Rating: 13 tahun ke atas

Durasi: 129 menit

Sutradara: Bill Condon

Cast: Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Ewan McGregor, Sir Ian McKellen, Josh Gad, Emma Thompson

Penulis naskah: Stephen Chbosky, Evan Spiliotopoulos

Advertisements