[Ulasan Film] Power Rangers

on
power-rangers-fnl-poster-720x1109
Foto oleh Lionsgate

                Sebagai generasi yang masih merasakan nikmatnya nonton kartun minggu pagi di TV, Power Rangers tentu sangat familiar bagi saya, walau setelah dewasa cukup kesulitan mengingat ceritanya (dan setelah melihat beberapa episode saya paham kenapa gak membekas diingatan). Di saat Hollywood sedang gencarnya menggunakan strategi pemasaran brand equity yang lebih suka membuat remake, reboot, ataupun sequel dibandingkan membuat ide baru, tak mengherankan salah satu tontonan anak yang fenomenal itu kembali muncul di layar lebar setelah terakhir kali muncul di layar lebar 20 tahun lalu.

                Plot cerita gak jauh beda sama cerita aslinya, 5 anak muda yang dipersatukan karena menemukan potongan teknologi asing yang memberi mereka kekuatan super. Jason (diperankan Dacre Montgomery), Kimberly (Naomi Scott), Trini (Becky G), Zack (Ludi Lin), dan Billy (RJ Cyler) dilatih Zordon (Bryan Cranston) serta robot humanoid bernama Alpha 5 (disuarakan Bill Hader) untuk bersiap melawan Rita Repulsa (Elizabeth Banks) yang mencari kekuatan Zeo Crystal yang tersembunyi di suatu tempat di bumi.

                Setelah dibuka dengan opening yang cukup menjanjikan mengenai masa lalu Zordon dan Rita Repulsa, kemudian film berfokus kepada origin para anggota Power Rangers sebelum mendapatkan kekuatan. Para pemuda ini memiliki masalah masing-masing yang umum ditemui para remaja seperti bullying, diasingkan, ataupun masalah pribadi lainnya. Setelah mereka mendapatkan kekuatan mereka, para jagoan ini lebih sering menghabiskan waktu latihan ber’Morphin time’ ketimbang menghabiskan waktu untuk melawan monster. Scene training mereka sebenernya cukup asik, tapi sayangnya gak tau timing kapan harus berhenti, jadinya malah cenderung kelamaan dan membosankan.

                Bagi film yang diangkat dari serial TV untuk anak-anak, film Power Rangers tentunya terasa sangat membosankan. Walau dialognya terkadang fun dan jokesnya bisa saya terima, tapi bagi anak-anak (dan anak kecil dalam diri saya) pasti menunggu ketika para anggota Power Rangers mulai beraksi melawan monster. Terlebih dengan zaman modern dengan teknologi yang jauh lebih canggih dibandingkan 20 tahun lalu, tentu saja ingin tahu bagaimana Power Rangers dengan sentuhan efek visual canggih. Walaupun aksinya gak berbeda dari kebanyakan film blockbusters lainnya dan baru ada di 20-30 menit akhir, tapi sungguh menyenangkan melihat pasukan Zord dan Megazord bertempur.

             Film Power Rangers ini bukan hanya memiliki reference ke seri aslinya, tetapi banyak juga reference ke film lain, dari yang obvious macam Transformers, Marvel Cinematic Universe, dan salah satu catchphrase legendaris dari Die Hard, hingga yang subtle macam The Breakfast Club (1985) ataupun Chronicle (2012). Bahkan saya rasa reference ke pop culture tu lebih banyak dibandingkan ke sumber aslinya –selain karakternya, yang saya ingat cuma music ‘Go Go Power Rangers’ yang cuma sekian detik—tapi mungkin lebih karna ingatan saya yang gak begitu ingat sama seri aslinya.

                Walau film Power Rangers ini membuat penonton lebih care pada semua karakter Rangers, tapi pembangunan cerita karakternya terlalu lama dan cenderung membosankan. Untuk sebuah film ber­budget besar (sekitar $105 juta), Power Rangers lebih seperti episode pilot dari tv series ketimbang film layar lebar. Mungkin bagi sebagian penggemar serial aslinya masih bisa menikmati untuk melihat origin karakter favoritnya, tapi bagi yang berekpektasi tinggi mengharapkan adegan pertarungan bakal kecewa. Adanya mid-credit scene yang mengindikasikan adanya sekuel, saya berharap sekuelnya menjustifikasi kenapa para penonton harus mengeluarkan uang untuk membeli tiket untuk nonton di bioskop.

3 star

Sutradara: Dean Israelite

Penulis Naskah: John Gatins

Pemeran: Dacre Montgomery, Naomi Scott, RJ Cyler, Ludi Lin, Becky G, Elizabeth Banks, Bryan Cranston

Durasi: 124 menit

Rating: 13 tahun keatas

Advertisements

7 Comments Add yours

  1. osyad35 says:

    Sepertinya halnya origin story superhero begitu ya ?

    Like

    1. ian afas says:

      Ya begitulah kurang lebih

      Like

  2. Yoyok says:

    buat kita yang mengikuti serialnya sejak kecil, pasti bakalan teriak Woaaaah! pas theme song go go power rangers muncul. se studio jadi rame

    Like

    1. ian afas says:

      Sayang kentang banget, abis ‘Go Go Power Rangers’ terus musiknya gak dilanjutin.. cuma beberapa detik doang

      Like

  3. Hastira says:

    wah ini sih kesukaan anakku

    Like

  4. Rasanya film ini memang bukan untuk anak-anak. Saya malah merasa Power Rangers The Movie ini untuk penonton mereka yang di tahun 90an lalu masih kecil. Jadi cerita dan sinematografinya pun berubah sesuai dengan penonton mereka yang sekarang sudah beranjak dewasa.

    Like

  5. Film says:

    Ciri khas power rangers, musiknya go go power raanger. Ingt dulu msih kecil wktu mu berantem selalu neriakin go go power ranger hhhh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s